Kolam renang untuk menyelam karena beban perenangnya di asumsikan tidak seperti kolam komersial dan malah seperti kolam pribadi, perhitungan per 1 kali sirkulasi ( turnover ) air sering menggunakan angka per 8 jam (residential ) bukan angka per 6 jam ( komersial ). Angka turnover per 8 atau 6 jam pun ini dari kebiasaan pabrik pompa Amerika yang tidak sesuai untuk Jakarta yang udaranya kotor. Angka yang lebih baik adalah 4 atau 2 jam per turnover sesuai praktek di Eropa, yang standard kesehatan untuk kolam renangnya lebih tinggi dari Amerika. Semakin cepat turnover air kolam, semakin cepat beningnya dan semakin cepat kuman-kuman yang di air terjebak di filter. Hanya saja memompa air kolam dalam kapasitas 4-6 jam per turnover, cukup mahal dari segi biaya pembelian pompa dan biaya listrik bulanannya. Jadi bisa dibayangkan betapa ruginya pemilik kolam jika ternyata saat di verifikasi turnover air kolam yang tadinya di targetkan 8 jam, ternyata 11 - 12 jam. Bukan masaalah uang disini tetapi kebeningan air dan distribusi baik obat sanitasi sulit terjaga saat beban perenang tinggi atau hujan besar sering menguyur. Sia-sialah ratusan juta rupiah biaya pembuatan kolam jika cuma air keruh yang didapati.
Kemampuan pompa Sea Pearl adalah 5 jam per turnover dengan 2 pompa, yaitu satu pompa 2PK dan satu lagi 1.65PK dan performa ini di ukur dengan flow meter. Pompa sebesar ini biasanya dipakai di kolam sekelas 225,000+ liter atau kolam panjang 25 meter x lebar 5 meter di kali rata-rata kedalaman 1.8 meter. Pompa Sea Pearl 2 kali lipat dayanya dari kebiasaan umum.
Dengan pompa dan filter ganda, Sea Pearl mau tidak mau membayar mahal biaya listrik dan beban friksi air di elemen filter, sebab jika hanya mengandalkan filter pasir, turover bisa 4 jam. Tidak ada yang gratis jika mau hasil yang lebih baik. Pompa 1.65PK duduk di atas trolley dan pakai selang supaya bisa dipindahkan titik sembur dan titik sedot sesuai kebutuhan, ini untuk kompensasi sulitnya sirkulasi optimal di kolam 4 meter yang terjal.
Sirkulasi air juga sangat diperlukan untuk pendistribusian obat sanitasi yang di gunakan, yang umumnya kaporit ( chlorine ). Seperti gula pasir perlu dilarutkan dengan mengaduk-aduk air di gelas, kolam perlu pompa berjalan kencang dan terus menerus supaya sanitasi bisa rata dan efektif tanpa ada daerah tak terjamah ( dead spot ) di air kolam. Kolam Dive Training karena perbedaan antara level dangkal 1.2 meter dan level dalamnya yang mendadak 4 meter seperti jurang atau para penyelam sebut sebagai drop-off, sebenarnya buruk dari segi sirkulasi obat sanitasi dan juga sirkulasi total air untuk tercapai 100% tersaring dengan pipanisasi standar yang terpasang.
