Sistim filtrasi di kolam sangat berbeda dengan sistim filtrasi untuk air di rumah, walaupun fungsinya sama. Kolam melakukan filstrasi dan juga sirkulasi sebab konteminasi setiap saat menyerang dari pengguna kolam dan dari udara terbuka. Jika di rumah, toren/bak air tertutup cukup rapat dan tidak ada orang yang merendamkan diri di air tersebut, maka sekali filtrasi sudah cukup dan air sekali pakai di buang. Secara alami air tidak bisa rusak, hanya tercampur oleh zat dan konteminasi yang tidak di kehendaki.
Karena cara kolam menyaring konteminasi adalah di sedot dan di buang ke wadah yang sama, untuk mencapai sirkulasi 100%, rata-rata harus dilakukan 6 kali lipat sirkulasi terhadap total volume air di kolam tersebut. Contohnya kolam Sea Pearl yang berkapasitas 135,000 liter, perlu total 810,000 liter
sirkulasi air.
Disini banyak kolam yang dari awal sudah salah memilih ukuran pompanya sebab hitungan kapasitas pompa tidak pernah di verifikasi dengan Flow Meter ( pengukur debit air per menit ) pada saat serah terima. Banyak kontraktor atau supplier alat kolam berasumsi pada spesifikasi pompa dari pabrik dan berasumsi total panjang pipa dan resistan di filter akan mengurangi hanya senilai “X”. Malah banyak kontraktor atau supplier alat kolam yang tidak buat tabel hitungan sama sekalipun. Jika kolam tidak dilengkapi flow meter yang bisa mengukur sirkulasi air dalam liter per menit secara aktual, pemilik hanya bisa menghayal yang terbaik untuknya dan bukan kepada realitanya. Ini semua di perkeruh dengan kenyataan bahwa pompa yang umum/popular di pakai adalah merek Amerika yang spesifikasi “pump curve nya“ ( kurva performa ) pada frequency listrik 50Hz tidak pernah ada secara umum walaupun di website produsen nya sekalipun, sebab spesifikasi mereka selalu untuk supply listrik 60hz. Pompa yang spesifikasinya berpacu pada 60Hz , jika di gunakan di 50hz akan turun kapasitasnya sekitar 15-20%.
